COMPLAINT LETTER I
Seorang programmer mengirimkan surat berikut :
Yth. Customer Support:

Saya sangat membutuhkan bantuan. Baru-baru ini saya
melakukan upgrade program Girlfriend 7.0 ke Wife 1.0
dan diluar perkiraan saya ternyata program baru ini
mulai melakukan proses pembuatan sub program Child 1.0
dan juga mulai memakan waktu dan sumber berharga
lainnya. Hal ini tidak dicantumkan di brosur
produknya.
Sebagai tambahan Wife 1.0 juga mengacaukan
program lainnya, memasukkan dirinya ke dalam proses
start up harian dimana secara otomatis memonitor semua
aktivitas system seperti sebuah Virus.
Program saya lainnya seperti Hang Out Caf?2.5 atau Friday Nite
Party 3..11 tidak lagi bisa berjalan dan menyebabkan
system menjadi crash setiap kali dilakukan. Saya
mencoba menjalankan Lazy Saturday 5.0 atau Sleepy
Sunday 4.2 namun juga tidak dapat dijalankan, bahkan
program Saturday Shopping 3.0 atau Sunday Home
Cleaning 3.11 yang muncul.
Sepertinya saya tidak bisa membuat Wife 1.0 bekerja di background sementara saya mencoba menjalankan aplikasi favorit saya lainnya.
Saat ini saya sedang berfikir untuk kembali ke Girlfriend 7.0 dan melakukan uninstall program Wife 1.0 namun tidak bisa.
Mohon bantuannya.
Ucup kelik
*****
Sehari setelah dia mengirim email itu, dia mendapat
jawabannya yang isinya:
 

Yth. Bapak Ucup Kelik,
Ini adalah masalah yang sering muncul dari
kesalahpahaman yang mendasar sekali.. Banyak orang yang
melakukan upgrade program Girlfriend 7.0 ke Wife 1.0
berfikir bahwa Wife 1.0 adalah tipe Utility &
Entertainment Program.
Sedangkan hal yang sebetulnya Wife 1.0 adalah Operating System, dirancang oleh Programmer kami di HEAVEN UNLIMITED COMPANY untuk menjalankan semuanya. Anda tidak bisa menghapus Wife 1.0 dan kembali ke Girlfriend 7.0. Wife 1.0 tidak
dirancang untuk ini karena jika dipaksakan untuk
dilakukan dapat menyebabkan system anda berantakan.
Kami merekomendasikan tetap menggunakan program Wife
1.0 dan coba menghadapi beberapa hal yang Anda anggap
sebagai kesulitan sebaik mungkin.
Beberapa tips dari kami jika ada suatu masalah, coba jalankan semua recovery program yang ada di folder C:\APOLOGIZE,
seperti Say Sorry 8.0 or Hug & Kiss 9.0. Walaupun
beberapa orang menganggap Wife 1.0 adalah suatu
program yang butuh perawatan tinggi, banyak juga orang
yang tahu bahwa program ini dapat menjadi sangat
menyenangkan.
Untuk memperoleh manfaat maksimal program Wife 1.0 ini, Anda dapat mencoba membeli add-on program seperti Listening 5.0, Flowers 2.5 atau Chocolates 1.3. Dalam hal apapun kami sangat tidak merekomendasikan untuk install program Secretary 1.0
(Short Skirt Version) karena program ini sangat tidak kompatibel dengan Wife 1.0 dan hampir dipastikan akan menyebabkan system menjadi crash.
Semoga dapat membantu,

############ ######### ######### ######### ######### ######### #########

COMPLAINT LETTER II
Dear Technical Support,
Tahun kemarin saya upgrade “Boyfriend 5.0?ke “Husband
1.0?dan saya perhatikan systemnya menjadi sangat
lambat…….. terutama yang berkaitan dengan bunga dan
perhiasan, yang tadinya lancar sewaktu masih
“Boyfriend 5.0? Selain itu, “Husband 1.0?lt; menonaktifkan program-program berharga yang lainnya,
misalnya “Romance 9.5″dan “Personal Attention 6.5″ dan memasang program-program yang tidak diinginkan,
misalnya “National Football League 5.0? “National
Basketball Association 3.0?dan “Golf Clubs 4.1?
“Conversation 8.0″sudah macet, dan “Housecleaning
2.6″bikin systemnya “crash” Saya sudah coba “Nagging
5.3″ untuk mengatasi masalah ini, tapi tidak berhasil.
Apa yang harus saya lakukan?
Tertanda,
Putus asa.
****
Dear Putus Asa,

Perlu diingat, “Boyfriend 5.0?adalah “Entertainment
Package” sedangkan “Husband 1.0″adalah “Operating
System” Coba ketik “http: I Thought You Loved
Me.HTML”dan coba “download” “Tears 6.2″dan jangan
lupa untuk menyisipkan “Guilt 3.0 update”Kalau
aplikasi ini bekerja sesuai rencana, “Husband 1.0″ otomatis akan mengaktifkan aplikasi “Jewelry 2.0″dan
“Flowers 3.5″ Tapi perlu diingat, terlalu banyak
memakai aplikasi diatas dapat menyebabkan “Husband
1.0″berubah menjadi “Grumpy Silence 2.5 “Happy Hour
7.0?atau “Beer 6.1″
“Beer 6.1″adalah program yang buruk karena akan
mengaktifkan “Snoring Loudly Beta”
Apapun yang kau pilih, jangan pasang “Mother in Law
1.0″(nantinya akan menguasai seluruh system). Juga
jangan pasang kembali program “Boyfriend 5.0″karena
akan membuat “Husband 1.0″crash.
Kesimpulannya, “Husband 1.0″adalah program yang
hebat, hanya “memory”nya terbatas dan kurang cepat
mempelajari aplikasi yang baru. Mungkin anda perlu
beli “software?tambahan untuk meningkatkan daya ingat
dan penampilan. Kami sarankan “Food 3.0″dan “Nice Dress 7.7″
Semoga berhasil,
Tech Support
Stay Happy ‘n Always SMILE =)

Comments No Comments »

Dialog absurd di tengah kota Jakarta. Gak tahu kisah nyata atau bukan. Yang pasti semua ceritanya bersumber dari kiriman email pembaca setia.

A. Saya baru bisa keluar 3 tahun lagi…
Bapak pengemudi bayar parkir: “Kok loketnya dikasih kerangkeng sih mbak?”
Petugas parkir: “Biar saya nggak kabur…”
(Sebuah mall di BSD, didengar oleh keponakan yang mengurungkan niatnya untuk bekerja di Jakarta)

B. Bis sekarang teladan…
Cewe baru belajar nyetir: “Gua itu paling males nyetir di belakang bis, tau sendiri kan bis suka ontime nunggu penumpang… ”
(Kelapa Gading, didengar oleh saudara yang malas menjelaskan perbedaan besar “ontime” dan “ngetem”)

C. Ini salah jari atau otak ya?
Lelaki sibuk di handphone: “Halo X, gua telepon ke nomor satunya ya (tutup) Halo… (mulai ngomong panjang lebar)… Lho? Ini siapa? Oh sorry, salah sambung! (memencet nomor lagi) Halo Y, loe gimana sih, ngasih nomer X ke gua kok salah sih! Gimana sih loe? (diam sesaat) Lho? Ini bukan Y ya? Sorry salah sambung…”
(Bank Swasta Pondok Indah, didengar oleh istri yang langsung tambah asik membaca email di BlackBerry-nya)

D. Itu beda lho…
Pengunjung: “Mbak, Coke-nya satu ya, pake es…”
Pelayan: “Maaf Mbak, Coke-nya gak ada, adanya Diet Coke.”
Pengunjung: (Menunjuk menu) “Terus ini apa, Coca-Cola… Kok dibilang ada?”
Pelayan: “Kalau Coca-Cola ada, Mbak…”
Pengunjung: “Huh!”
(Cafe di FX, didengar oleh satu meja yang bersepakat menyuruh pelayan training ulang)

E. Wah, udah lama gak merhatiin dia…
Ibu mengejek anak kecil bersepeda: “Ih, lihat tuh, badan segede gitu kok masa naik sepeda sekecil itu, hahaha… (sesaat kemudian)… Lah, itu anakku!”
(Perumahan di Jakarta, didengar oleh teman yang langsung terbahak-bahak)

F. Ya namanya juga bajakan…
Saat nonton DVD,
Calon mahasiswa S1 FasilKom: “Oi itu jangan lupa kemsyen-nya. .”
Teman #1: “Kemsyen apaan sih?”
Calon mahasiswa S1 FasilKom: “Itu kemsyen… kemsyen, masa gitu aja ga tau sih?”
Teman #2: (mencari fasilitas “kemsyen” di menu) “Gak ada ah…”
Calon mahasiswa S1 FasilKom: “Itu lho, kemsyen en subtitiles.. .”
(Apartemen daerah Kemanggisan, didengar oleh semua teman yang ingin mengumpulkan dana buat les bahasa inggris)

G. AC/DC gityuuu looooh…
Ketua Panitia: “Naahh.. pin yang ini desainnya bagus nih. Bisa buat cewek dan cowok. Biseks gitu!”
(Rapat Buka Bersama, didengar oleh sepasukan panitia yang merasa si ketua terlalu banyak nonton porno)

H. Lengkap banget deh…
Pelayan: “Minumnya, mbak?”
Teman #1: “Teh tawar anget”
Teman #2: “Saya… Teh manis anget”
Pelayan: “Hot tea… dan sweet ice tea hot” (tampang pede dan nyatet)
(Sebuah resto di Plasa Senayan, didengar oleh 2 orang teman yang mesem-mesem dan segera membenarkan ucapan pelayan tersebut)

I. Sehat bener ya, jaringannya. ..
Programmer 1: “Kemaren internet gua udah onlen, cuy”
Programmer 2: “Wah selamat-selamat, download pelm lah kita, gak perlu nonton serial di tipi!”
Coordinator: “Gaya bener lo pada, mentang-mentang udah pada pasang internet bearbrand… ”
(Sebuah warung makan, didengar oleh teman-teman yang langsung bergulingan)

J. Emangnya gua badak?
Cewe mau ikut kursus: “Mbak, kalo disini ada kelas conservation gak?”
(Didengar oleh Student Advisor yang berasa di LSM)

K. Saya menghormati sejarah…
Account Executive: “Baik, kalau begitu kita meeting lagi Senin tanggal 20…”
Klien Besar: “Tanggal 20 itu hari Sabtu. Kita meeting Senin tanggal 22.”
Account Executive: “Tapi tanggal 22 itu hari Rabu. (diam sesaat) Ups, my mistake, ini kalender tahun lalu.”
(Didengar oleh semua kolega yang ingin membungkus AE itu dan mengirimnya ke Timbuktu)

L. I’m not worthy, I’m not worthy…
Klien Besar: “Ya sudah, besok kita meeting lagi ya…”
Account Executive: “Wah, bu, besok tidak bisa, kami ada janji dengan klien lain.”
Klien Besar: (memandang sinis) “I am not your client… I am your god.”
(Perkantoran di Gatot Subroto, didengar oleh seluruh tim agensi yang langsung menyatu dengan kursi masing-masing)

M. Kami perlu yang representatif. ..
Brand Manager: “Hmmm, bagus, visual-nya bagus. Sayang copywriternya jelek.”
Copywriter: “MAKSUD LOE?”
(Didengar oleh Creative Director yang langsung menawarkan mengganti copywriter sambil terbahak).

N. Yang pasti bisa buat nyelem…
Lelaki di toko kacamata: “Yang itu dong, Mbak… Liat…”
Pramuniaga: “Nah yang ini keren, Mas… Bahannya juga bagus, Titanic…”
(Optik di Mangga Dua, didengar oleh pengunjung yang ingin mendorong pramuniaga ke laut)

O. Makanannya seru deh!
Cowo: “Kemaren gua sama cewe gua buka puasa di PS 2…”
(Didengar oleh semua teman yang merasa cowo itu terlalu banyak main game)

P. Jaman susah sih…
Pada saat telepon gratis dua detik pertama,
Cowo Hemat: “Kamu dimana? (tutup) Apa? (tutup) Pulang… (tutup) PULANG! (tutup) Aku bilang kamu pula… Ah, goblok lebih dari dua detik!” (tutup)
(Didengar oleh teman yang ingin merebut dan merebus handphone itu)

Q. Jangan terlalu mateng ya!
Pria duduk dan langsung berteriak memesan: “Mas, Ovaltine bakar satu!”
(Warung Tenda Jakarta, didengar oleh seseorang yang hampir jatuh dari kursinya)

R. Yang horisontal kalau bisa!
Di sebuah restoran,
Teman #1: “Eh udahan yuk, kite cabs..”
Teman #2: “Gua aja yang panggilin.. Mas! Billboardnya ya!
(Restoran di Jakarta, didengar oleh banyak orang yang merasa kasihan dengan pelayannya)

S. Menurut sejarah, gak baik loncat-loncat. ..
Ditengah sebuah konser,
Wanita Bingung: “Waduh… Minggir, minggir, kacamata saya jatuh… Awas jangan diinjak!”
Lelaki Baik: “Kenapa mbak, kenapa?”
Wanita Bingung: “Ini mas, kacamata saya jatuh, duh gimana ya?”
Lelaki Baik: “Sini saya bantu cariin. Wah si mbak nih, makanya lompatnya pelan-pelan, jangan terlalu histori…”
Wanita Bingung: “Histori?”
(Senayan, didengar oleh penonton lain yang tiba-tiba tidak bisa loncat lagi)

T. Kalo nyapa yang bener dong… HUH!
Penjaga Toko: “Silahkan kak, Giordano…”
Lelaki Gemulai Nan Jutek: (Menatap sinis) “Sorry! Nama gua bukan Giordano!”
(EX, didengar oleh teman-temannya yang langsung berteriak “Apaan sih tcooooong!”)

V. Ini yang salah ngerti siapa ya?
Pria: “Mbak, pesen es teh manis…”
Pelayan: “Es-nya habis mas…”
Pria: “Ya udah, es teh tawar…”
Pelayan: “Iya, mas…”
(Restoran di Jakarta, didengar oleh pengunjung lain yang berpikir cara buat es).

W. Ternyata bukan dongeng anak…
Istri: “Itu loh, yang badannya pendek-pendek. ..”
Suami: “Apaan?”
Istri: “Yang tokoh fairy tale…”
Suami: “Ha, yang mana sih?”
Istri: “Yang punya jenggot…”
Suami: “Yang mana sih…?”
Istri: “Itu lho, yang Snow White dan 7 Mucikari!”
(Didengar oleh teman yang hampir berguling-guling)

X. Maksud gua buat naruh barang!
Mahasiswa S2 mengomel: “Heran gua, hotel sebesar ini gak ada ballroom-nya! ”
Teman: “Emang loe mau ngapain, resepsi?”
Mahasiswa S2: “Mau minta koper gua dibawain ke kamar nih!”
Teman: “Bellboy kaleeeee!”
(Hotel bintang lima di Kebon Sirih, didengar oleh semua teman gaulnya yang memaklumi mahasiswa yang baru saja tidak lulus TOEFL)

Y. Eh tapi asik kali yeee…
Anak SMP #1: “Setdah, masa tadi kelasan gua selang-seling gitu duduknya…”
Anak SMP #2: “Ya elah, kesian bet kelas luh!”
Anak SMP #1: “Iye, ntar bukannye belajar, malah pade bercinta!”
(Angkot di pinggiran Jakarta, didengar oleh penumpang yang menuduh sinetron sebagai sumber kebodohan bangsa)

Z. Gak usah pake mangkok aja!
Nyonya: “Mbak, tolong beliin bakso di ujung jalan sana ya, beli empat bungkus, dua campur pake mie, dua baksonya aja…”
PRT Baru: “Yang baksonya aja pake kuah gak, bu?”
(Jakarta, didengar oleh seseorang yang tertawa gila-gilaan) .

AA. Dulu di percetakan ya, mas?
Penjaga Parkir: “Wah mas, stiker parkir langganannya udah exemplar nih, besok diperpanjang ya.”
(Perkantoran Sudirman, didengar oleh pengemudi yang akhirnya sadar ada tulisan EXP di stikernya).

AB. Pengetahuanmu luas, nak…
Mahasiswa #1: “Eh, lo demen Mocca gak?”
Mahasiswa #2: (berpikir sebentar) “Halal gak?”
Mahasiswa #1: “Ya elah, bukan mocca minuman, tapi Mocca band!”
Mahasiswa #2: (dengan begitu PD) “Ah, kalo band-band luar negeri gitu gua nggak demen…”
(Jakarta, didengar oleh seseorang yang memejamkan mata dan berteriak dalam hati)

AC. Belum, lagi jelek koneksinya.
Researcher: “Eh pensil gua kemana ya?”
Researcher Khusyuk Internetan: “Kenapa loe?”
Researcher: “Pensil gua ilang! Loe tau gak dimana? Udah gua cari kemana-mana nih! Mana sih ya?
Researcher Khusyuk Internetan: “Udah loe cari di google belum?”
(R&D Jakarta, didengar oleh satu divisi yang merasa salah satu dari mereka kena penyakit internetan akut)

AD. Kalo bisa yang triple L!
Ibu #1: “Saya yang well-done ya.”
Pelayan: “Baik, bu. (Ke ibu lainnya) Ibu steaknya mau gimana?”
Ibu #2: “Maksudnya mas?”
Pelayan: “Mau yang medium atau…”
Ibu #2: (Memotong dengan mantap) “Ooooh, saya yang large aja, mas!”
(Restoran Steak di Jakarta Selatan, didengar oleh ibu lain yang merasa harus membenahi make-up tiba-tiba)

AC. Makanya perhatian dong!
Si Pemimpi: “Gua pengen bikin bagasi gua jadi home theater deh.”
Si Serius: “Hah, gimana caranya?”
Si Pemimpi: “Ya nanti gua mau tambahin (mulai penjelasan teknis).”
Si Serius: “Home theater portabel gitu?”
Si Pemimpi: “Ya nggak lah, gimana caranya loe bawa-bawa bagasi?”
Si Serius: “Ya ditenteng gitu? Eh, maksud loe bagasi apa nih?”
Si Pemimpi: “Ya itulah! Yang tempat parkir mobil… Masa loe gak tau sih?”
Si Serius: “Euh, itu kayaknya garasi kali!”
(Reuni alumni di Jakarta, didengar oleh seseorang yang langsung harus ke kamar kecil)

AD. Ah, jangan buka rahasia dong…
Tukang Sate: “Masnya apa nih?”
Mahasiswa Tegas: “Gua kambing! (ke temannya) Loe?”
Mahasiswa gemulai: “Aku ayam…”
(Pondok Sate di Jakarta Barat, didengar oleh mahasiswi yang merasa mendengar pengakuan)

AE. Yang penting kan tata krama!
Pembeli Santun ke Penjual Sop Kaki: “Daging tiga sama kaki dua, udah itu aja. Eh, kakinya yang kanan ya!” (Semua pengunjung tertegun)
Penjual Sop Kaki: “Mmmm, kenapa harus yang kanan, Pak?”
Pembeli Santun: “Yaaa, biar lebih sopan aja… Kakinya yang kanan gituuu!”
(Tenda Sop Kaki Kambing di Tebet, didengar semua pengunjung yang hampir tersedak)

AF. Otomatis ya, mbak?
Kasir: “Mau order apa, mas?”
Pembeli: “Coca-Cola large satu, sama french fries satu… Itu aja, mbak.”
Kasir: “Oke, saya ulang ya, Coca-Cola large satu, french fries large satu. Mau tambah kentang gorengnya, mas?”
(Restoran fastfood di Jakarta, didengar oleh pembeli yang merasa dicekokin)

AG. Ini pasti artinya tentang teknologi…
Webmaster: “Gile, website bikinan orang-orang latin keren banget yah!”
Webdesigner: “Hah, tau dari mana loe itu buatan orang latin?”
Webmaster: “Itu ada tulisannya: Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit…”
(Sebuah kantor di Palmerah, didengar oleh webdeveloper yang langsung ngakak tak terkendali)

AH. Saya kan gak pernah ngerti dunia itu!
Pejabat: “Selamat sore, hari ini adalah hari yang bahagia karena kita menjadi tuan rumah untuk event internasional yaitu Festival Seni Koremponter. ..”
(Seluruh hadirin tertawa)
Pejabat: “Maksud saya Korentomper. ..”
Tamu Gemas: “Kontemporer, pak!”
Pejabat: “Ya harap maklum, saya kan bukan seniman!”
(Galeri Nasional Jakarta, didengar oleh hadirin yang langsung mengeluarkan palu dan pahat).

AI. Ini tindak lanjut yang penuh cinta!
Reporter: “Pak, bagaimana perkembangan kasus korupsi X, apakah ada tindak lanjut dari instansi bapak, seperti pemberian sanksi ?”
Pejabat: “Sejauh ini masih kita pantau dulu, hal ini sedang dibicarakan bagaimana2nya”
Reporter: “Apakah justru ini melibatkan orang dalam pak?”
Pejabat: “Loh, anda tidak boleh sembarangan begitu… Kita harus lihat situasi ini kiss per kiss nya…”
Reporter: “Maksud bapak case by case ?”
Pejabat: (malu) “Iyalah gitu.”
(Kantor Kepemerintahan, didengar oleh kameraman yang menutup mulutnya takut dicium).

AJ. Kan lulusan S3 Ilmu Angkotan!
Pengendara Motor Gak Sabar: “Maju dong! Dasar Bego!”
Supir Angkot Intelektual: “Kalo gua bego, gua gak bakal jadi supir angkot tau!”
(Di bawah flyover Depok, didengar oleh penumpang angkot yang tiba-tiba mempertanyakan pendidikan yang dia jalani selama ini).

AK. Gak mau tawar aja?
Mahasiswa Genit ke penjual kantin yang cantik: “Mau es teh… manis.”
(Kantin kampus Jakarta, didengar oleh teman yang tiba-tiba sok belajar buat UAS).

AL. Si Pitung ada gak, Beh?
Penonton Berisik: “Naaah, nyang itu no Neo namenye, si Neo, Neo…”
Adegan di Layar: “Hello, Mr. Anderson…”
Penonton Berisik: “Eh bukan ding, bukan Neo……itu Mr. Anderson namanya!”
(Bioskop pinggiran Jakarta Timur, didengar oleh penonton di depan yang memilih antara tertawa atau melempar popcorn)

Comments 1,800 Comments »

oleh Andi F. Noya

Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta . Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana . Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan. Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda?

 

Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah.Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya. Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia. Biasanya satu sampai dua jam saya di sana . Jika masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang. Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar pagar. Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero Jakarta . Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi.

 

Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang Indonesia . Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia . Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir saya terus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan Metro TV.


Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.


Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya. Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah. Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang Cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil datang. Dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya. Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami - ibu, dua kakak, dan saya - harus bisa bertahan hidup sebulan.

Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang. Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi? Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang kaya.Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari.

Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan. Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak punya hati nurani.

Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan hayalah yang sudah berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya tertawa. ”Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan.. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan. Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,” ujarnya. Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, “Kamu berhak untuk itu.. Sebab kamu sudah bekerja keras.”

Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak lagi sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong. Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya tabrak.

Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya. Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh. Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok..Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion. Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung. Sang ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi. Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul. Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang pernah saya rasakan dulu.

Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit.***

Comments No Comments »

rumah sakit bersalin                       - hospital bersalin

telepon selular                              - talipon bimbit

belok kiri, belok kanan                  - pusing kiri, pusing kanan

Departemen Pertanian                   - Departemen Cucuk Tanam

6.30 = jam setengah tujuh             - 6.30 = jam enam setengah

gratis ngobrol 30menit                  - percuma berbual 30minit

tidak bisa                                     - tak boleh

WC                                             - tandas

Aduk                                           - Kacau

Diaduk hingga merata                   - kacaukan tuk datar

7 putaran                                      - 7 pusingan

Imut-imut                                     - Comel benar

pejabat negara                             - kaki tangan negara

bertengkar                                   - bertumbuk

pemerkosaan                                - perogolan

Pencopet                                     - Penyeluk Saku

Tidur siang                                  - Petang telentang

onani                                        - Tarik - Dorong Kelamin

Air Hangat                                 - Air Suam

Terasi                                       - Belacan

Pengacara                                 - Penguam

Sepatu                                      - Kasut

Ban                                           - Tayar (Tyre)

remote                                      - kawalan jauh

kulkas                                         - peti sejuk

chatting                                       - bilik berbual

rusak                                          - tak sihat

keliling kota                                - pusing pusing ke bandar

Tank                                          - Kereta kebal

Kedatangan                                - ketibaan

bersenang-senang                       - berseronok

bioskop                                      - panggung wayang

rumah sakit jiwa                          - gubuk gila

dokter ahli jiwa                          - Dokter gila

narkoba                                     - dadah

pintu darurat                              - Pintu kecemasan

hantu Pocong                            - hantu Bungkus

Comments No Comments »



Jakarta (ANTARA News) - "Siapa pun yang ingin mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di dunia, mesti segera membaca buku ini."

Itulah komentar majalah Rolling Stone tentang buku "The Shock Doctrine; The Rise of Disaster Capitalism" karangan wartawati Kanada, Naomi Klein, yang diterbitkan Penguin Books, London, Inggris (2007).

Buku setebal 558 halaman yang struktur kisahnya rapi dan dinilai koran "The Observer" sebagai buah dari riset mahasempurna ini menyingkap muslihat kaum kapitalis yang secara menyeramkan menggasak aset negara, tak peduli jutaan orang mati dan jatuh melarat karenanya.

Para kapitalis ini mengarsiteki sekaligus mensponsori kudeta-kudeta berdarah di seluruh dunia, swastanisasi aset dan sistem pelayanan publik, krisis moneter, merger dan akuisisi perusahaan pasca krisis, liberalisasi perdagangan, invasi Irak, bahkan gerakan demokratisasi.

Selain mewujud dalam perusahaan-perusahaan multinasional (MNCs), mereka mengotaki Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), bahkan organisasi-organisasi bantuan internasional seperti Badan Bantuan Pembangunan Internasional AS (USAID).

Mereka melekat pada lembaga-lembaga "think tank" terkenal seperti American Enterprise Institute, Heritage Foundation dan Cato Institute, sementara ruhnya bersemayam dalam sejumlah universitas Barat yang menjadi tempat berkuliah para teknokrat negara berkembang yang belajar karena biaya asing.

Kaum kapitalis ini tak peduli sebuah rezim zalim atau tidak, demokratis atau tidak, korup atau tidak, yang penting menguntungkan mereka, persis pepatah mantan pemimpin RRC Deng Xiaoping, "Tak penting kucing itu putih atau hitam, yang penting bisa menangkap tikus."

Kaum yang disebut Naomi neoliberal ini sangat anti kepemilikan publik dan berupaya membuat pemerintahan di banyak negara lumpuh sehingga merekalah yang sesungguhnya berkuasa atas negara dan sistem transaksi sosial, ekonomi dan politik antar-bangsa.

"Saya ingin pemerintah dikerdilkan sampai saya bisa menyeretnya ke kamar mandi untuk kemudian membenamkannya dalam bak mandi," kata Grover Norquist, pelobi kepentingan bisnis MNCs terkenal di AS sekaligus pembela fanatik neoliberal.

Untuk mengerdilkan pemerintah, mereka mempunyai modus, yaitu mengacaubalaukan negara dengan menciptakan situasi krisis sampai kesadaran nasional negara itu hilang, terutama berkaitan dengan konsep dasar pengelolaan ekonominya.

Negara itu lalu dipaksa menelan resep ekonomi propasar dalam dosis tinggi nan beruntun, tak peduli rakyatnya bakal sengsara. Hal terpenting, negara itu menjadi amat tergantung pada modal asing(kapitalis) sehingga setiap saat bisa dieksploitasi oleh kaum kapitalis itu.

Metode membuat syok nasional sehingga negara tak sadar telah dikuasai kapitalis ini disebut Naomi Klein sebagai "Shock Doctrine."

Naomi menganalogikan terapi syok ekonomi ini dengan doktrin militer AS "kejutkan dan takutkan" (shock and awe) dan metode cuci otak ala dinas intelijen AS (CIA), "kubark counter intelligence interrogation."

Lewat "kubark", CIA membunuh karakter manusia dengan teknik interogasi mengerikan sehingga memori manusia hilang untuk kemudian diganti karakter baru jadi-jadian, seperti dalam kisah trilogi "Bourne" yang dibintangi aktor Hollywood, Matt Damon.

Dalam format berbeda, para ekonom neoliberal mengaplikasikan metode dekarakterisasi ala CIA ini ke tingkat negara dengan membuat negara berada dalam suasana krisis, sehingga gampang dipaksa untuk menelan resep kebijakan ekonomi prokapitalis yang formula dasarnya adalah liberalisasi pasar, penghapusan subsidi, dan swastanisasi aset publik.

Penggagas terapi syok itu adalah ekonom Universitas Chicago, Milton Friedman, seorang penentang intervensi negara dalam pengelolaan ekonomi yang dulu disarankan ekonom besar pasca-Perang Dunia I, John Maynard Keynes.

Friedman percaya bahwa perekonomian harus diserahkan sepenuhnya pada pasar dan ia ingin dunia mempraktikannya tanpa kecuali.

Terinspirasi sukses Mafia Berkeley di Indonesia akhir 1960-an dan junta militer Brazil pimpinan Castello Branco yang mengakhiri ekonomi kerakyatannya Presiden Joao Gullart pada 1964, Friedman membidik Chile sebagai kelinci percobaan pertamanya.

Chile awal 1970-an diperintah Salvador Allende yang mengusung sistem ekonomi sosialis yang tak mengharamkan kepemilikan swasta, namun mengharuskan negara melindungi kepentingan publik. Ekonomi sosialis Chile berbeda dari komunisme, seperti diklaim AS, bahkan mirip azas demokrasi ekonominya Mohammad Hatta di Indonesia.

Karena ingin menasionalisasi perusahaan asing, maka sosialisme Allende itu lalu dipandang korporasi-korporasi multinasional asal AS sebagai ancaman. Salah satu yang terancam, American Telephone & Telegraph (AT&T), mendesak pemerintah AS untuk mencungkil Allende dari kekuasaannya.

Sebelum mendongkel Allende, AS mendidik mahasiswa-mahasiswa Chile di Universitas Chicago di bawah asuhan Milton Friedman dengan tujuan mengimbangi popularitas para ekonom sosialis pimpinan Pedro Vuskovic Bravo yang menjadi arsitek kebijakan ekonomi Allende.

Untuk mengaburkan intervensi, pemerintah AS bersembunyi dibalik Ford Foundation, yang juga mensponsori para mahasiswa Indonesia berkuliah di Universitas California, Berkeley, pada 1956 hingga menjadi teknokrat Orde Baru.

Para mahasiswa Chile yang dibiasakan mempelajari ekonomi neoliberal ini disiapkan sebagai teknokrat pasca Allende.

Pada 1973, Allende akhirnya digulingkan oleh Jenderal Augusto Pinochet dukungan CIA.

Selagi Pinochet menebarkan teror hingga rakyat Chile syok dalam ketakutan, para ekonom Friedmanis menyuntikkan resep propasar (prokapitalis) dalam dosis tinggi hingga Chile terperangkap utang dan kekuasaan asing.

Paparan Chile ini adalah awal cerita horor pasar bebas yang menjadi isi utama buku yang disebut Dow Jones sebagai salah satu literatur ekonomi terbaik abad 21 ini.

Horor berlangsung hingga era pemerintahan George Bush yang disebut sebagai puncak kebrutalan pasar bebas hingga dunia pun muak sampai-sampai Amerika Latin alergi dengan apa pun yang berbau Friedmanis seperti IMF.

"Tuan-tuan, kami ini berdaulat. Kami ingin melunasi utang kami, tapi maaf-maaf saja jika kami harus membuat kesepakatan lagi dengan IMF," kata Presiden Argentina, Nestor Kirchner.

Sambil membopong diktator dan rezim sokongannya, kaum kapitalis mensponsori para ekonom didikan kampus-kampus neoliberal untuk menyiapkan karpet merah bagi kapitalisme dengan menyusun kebijakan ekonomi reformis propasar, satu eufemisme dari kebijakan prokapitalis.

Afrika Selatan pasca-Nelson Mandela, Rusia di bawah Boris Yeltsin, dan Polandia pasca-komunis adalah beberapa contoh.

Negara-negara yang semula khidmat mendengarkan rekomendasi para ekonom reformis bimbingan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) itu kemudian sadar telah dibohongi para ekonom dan birokrat bimbingan Barat yang ternyata para calo swastanisasi negara.

Para penyusun kebijakan reformasi ekonomi tersebut memang kerap berperan menjadi mulut korporasi asing, bahkan konsep kebijakan swastanisasi Bolivia semasa Presiden Gonzalo Sanchez de Lozada disusun para analis keuangan perusahaan asing, seperti Solomon Brothers dan ExxonMobil.

Nelson Mandela adalah salah satu yang kecewa karena cita-cita memakmurkan warga kulit hitam, seperti dipesankan Piagam Perdamaian tak tercapai, justru karena orang dekatnya, Tabo Mbeki, menyusun kebijakan pro-kapitalis sehingga mayoritas rakyat Afsel terpinggirkan.

Polandia juga menyesal mematuhi nasihat pialang George Soros dan ekonom Jeffrey Sachs, seorang Friedmanis dari Universitas Harvard, sehingga aset-aset strategis Polandia jatuh ke tangan asing, justru ketika Partai Solidaritas memerintah negeri itu.

Demikian pula Rusia, yang kehilangan aset-aset strategisnya setelah ekonom reformis Yegor Gaidar, seorang Friedmanis di bawah bimbingan IMF, mempromosikan kebijakan propasar. Vladimir Putin kemudian mengoreksi kesalahan itu, dan mengakhiri hubungan mesra Rusia dengan IMF.

Buku tersebut juga menyebut krisis moneter Asia 1997 sebagai hasil desain kaum kapitalis karena mereka ingin menguasai aset-aset strategis di kawasan itu, mencaplok aset-aset perusahaan nasional Asia yang tumbuh meraksasa, dan hendak menggulingkan rezim-rezim yang berubah kritis, seperti Soeharto di Indonesia.

Menurut Naomi, di masa tuanya, Soeharto yang pro-Barat itu bosan diperah korporasi asing, sehingga ia "berkhianat" dengan membagikan aset nasional kepada kroninya yang berakibat korporasi asing itu berang, lalu merancang pembalasan dengan membesarkan skala krisis moneter Asia.

Ketika Indonesia dan Asia akhirnya lunglai karena krisis moneter, IMF datang menawarkan obat dengan syarat liberalisasi pasar, sebuah formula klasik ala Friedman. Semua Asia menerima resep itu, hanya Malaysia yang menampik formula rente itu.

Hanya dalam 20 bulan, perusahaan-perusahaan multinasional asing berhasil menguasai perekonomian Indonesia, Thailand, Korea Selatan, Filipina dan juga Malaysia lewat 186 merger dan akuisisi perusahaan-perusahaan besar di negara-negara ini.

"Ini adalah pengalihan aset dari domestik ke asing terbesar dalam limapuluh tahun terakhir," kata ekonom Robert Wade.

Tak puas di situ, para kapitalis merancang serangan ke Irak setelah Presiden Saddam Hussein memberi keleluasaan pada Rusia menambang minyak di Irak.

Perusahaan-perusahaan minyak seperti Shell, Halliburton, BP dan ExxonMobil lalu mengipasi pemerintah AS dan Inggris untuk mencaplok Irak.

Namun, saat Irak sulit digenggam karena masalah terlalu kompleks, negeri itu disulap menjadi lahan bisnis keamanan sehingga para pedagang senjata, konsultan keamanan perusahaan di wilayah krisis, tentara bayaran dan para spesialis teknologi keamanan mendadak bergelimang uang.

Kemudian, saat kaum kapitalis itu membutuhkan relaksasi setelah penat berburu laba, maka sejumlah lokasi dibidik menjadi situs wisata eksotis, diantaranya Srilangka.

Namun, para nelayan miskin yang mendiami pantai-pantai indah Srilangka tak mau hengkang sampai tsunami menghantam Asia bagian Selatan pada 2004.

Bertopengkan bantuan rekonstruksi pascabencana dan bergerak dalam kerudung USAID, para kapitalis menyandera pemerintah Srilangka, agar "menukarkan" pantai indah Srilangka dengan bantuan tsunami. Situasi serupa berlaku di Thailand dan New Orleans pasca-badai Katrina.

Intinya, kaum kapitalis telah membisniskan perang, teror, anarki, situasi krisis dan bencana alam. Naomi Klein menyebutnya, "kapitalisme bencana". (*)

A. Jafar M. Sidik

COPYRIGHT © 2008

Comments No Comments »

Sebagaimana kita ketahui, jika membeli komputer (desktop atau laptop) di Jepang sebagian besar menggunakan keyboard dengan layout Japanese dan juga Windows versi Jepang. Memang komputer yang English version ada juga, tetapi biasanya harganya lebih mahal. Kalau kita install ulang Windows-nya dengan English version, maka beberapa tombol keyboard tidak berfungsi bahkan kita harus menghapalkan letak beberapa tombol sesuai layout US keyboard; misalnya: untuk mengaktifkan tanda "@" harus menekan tombol Shift+2 (padahal di Japanese keyboard tanda itu letaknya di sebelah tombol P). Hal ini terjadi karena English Windows tidak secara otomatis mengenali Japanese keyboard pada saat instalasinya (melainkan menganggap sebagai US keyboard). Nah bagaimana "mengakali" Japanese keyboard agar berfungsi di English Windows? Berikut ini trik yang bisa dicoba untuk Windows XP (English version):

Pertama-tama, aktifkan driver untuk Japanese keyboard (tanda –> berarti "selanjutnya" ):
1). Buka Control Panel –> System –> Hardware –> Device Manager (untuk memunculkan list hardware)
2). Pilih Keyboard hingga muncul daftar hardware-nya, biasanya "Standard 101/102-key atau Microsoft Natural PS/2 keyboard"
3). Klik kanan pada hardware tersebut –> klik Update Driver hingga muncul Wizard. Ikuti Hardware Update Wizard: pilih "No, not this time" untuk menjawab "Can Windows connect…?" –> klik Next
4). Pilih "Install from a list or specific location (Advanced) –> klik Next
5). Pilih "Don’t search, I will choose the driver to install" –> klik Next
6). Hilangkan tanda centang (uncheck) pada "Show compatible hardware" –> pilih "(Standard keyboards)" pada kotak kiri "Manufacturer" , dan pilih "Japanese PS/2 keyboard (106/109 key)" pada baris ke-2 di kotak sebelah kiri "Model" –> klik Next
7). Abaikan peringatan Windows tentang "installing incompatible device driver" dengan menekan tombol YES
8). Abaikan juga peringatan Windows tentang "replacing PS/2 mouse port driver" dengan menekan tombol YES
9). Klik Finish dan reboot komputer.

Biasanya tahap I di atas belum sepenuhnya mengaktifkan Japanese keyboard. Untuk itu, lanjutkan ke tahapan berikut ini:
10). Buka lagi Control Panel –> Regional and Language Options
11). Klik tab Language –> pilih Details… –> klik Setting –> klik Add.. –> pilih "Japanese" pada "Input language" dan "Keyboard layout/IME" –> klik OK, maka pada tab Setting sekarang Japanese keyboard akan muncul di bawah English (US) keyboard
12). Klik pada English (United States) yang hurupnya dicetak tebal (berarti dianggap deffault oleh system) –> klik tombol Remove –> klik OK –> Restart komputer

Nah dengan tahapan di atas, seharusnya sekarang sebagian besar tombol-tombol Japanese keyboard berfungsi.

Tangtir-PPIT

Comments No Comments »

All out of love (Air Supply) : Katrêsnan Kebablasan

Goodbye (Air Supply) : Minggat

Lost in love (Air Supply) : Wis Ora Tresno

Grease (Bee Gees) : Gêmuk

I started a joke (Bee Gees) : Mulai Ndhagêl

In the morning (Bee Gees) : Isuk Utuk2

Saturday night fever (Bee Gees) : Meriang ning Nekat Ngapèl

Summertime (jazz) : Loro Panas

Words (Bee Gees) : Nggêdêbus

More than words (Extreme) : Nggêdêbus Pol

Smoke on the water (Deep Purple) : Umob (album ‘Nggodog Wedang’)

Soldier of fortune (Deep Purple) : Prajurit Ra Iso Mati (kethoprakan ….)

Mama (Genesis) : Mbok-é

Another day in paradise (Phill Collins) : Liyo Dina neng Suwargo

Againts all odds (Phill Collins) : Ongko Ganep

All night long (Lionel Richie) : Lek-lekan (Begadang)

Still (Lionel Richie) : Isih (durung entek)

Stuck on you (Lionel Richie) : Kecanthol

Truly (Lionel Richie) : Tenane

Frozen (Madonna) : Njêndhêl

Black & white (Michael Jackson) : Sebrangan Dalan

Killing me softly (Roberta Flack) : Diithik-ithik sak Modare

My way (Frank Sinatra) : Sak Karepku

I don’t like to sleep alone (Paul Anka) : Kelonono Aku

Hands clean (Alanis Morissette) : Bar Wisuh

Believe (Cher) : Percoyo

I still believe (Brenda K Star) : Ngèngkèlan

Shy Guy (Diana King) : Clingus

Wild Woman (Michael Learns to Rock) : Simbok Morotuwo

Torn (Natalie Imbruglia) : Suwek Dhedhel Dhuel

Don’t speak (No Doubt) : Menenga Waé

Something stupid (R William & Nicole Kidman) : Nggobloki

Don’t stop me now (Queen) : Ojo Ngganduli

Always (Bon Jovi) : Mesthi Ngono

Bed of roses (Bon Jovi) : Trebela

Alone (Heart) : Ijen (album ‘Kendel Tenan’)

Self control (Laura Branigan) : Poso

Jump (Van Halen) : Njondhil (album ‘Kaget’)

Almost unreal (Roxette) : Ora Umum

Black magic woman (Santana) : Mak Lampir

Smooth (Santana) : Lunyu (album’Kepleset’ )

Always somewhere (Scorpion) : Mblayang Wae!

So young (The Corrs) : Isih ABG

Forever young (Alphaville) : Awet Nom

Suddenly (Billy Ocean) : Ujug-ujug

If (Bread) : Bhèk-bhèk é.

My heart will go on (Celine Dion) : Loro Hepatitis

Hard to say I’m sorry (Chicago) : Kisinan

Zombie (Cranberries) : Gendruwo

Boulevard (Dan Byrd) : Dalan Gedhe

Emotion (Destiny’s Child) : Muntab

If we hold on together (Diana Ross) : Yen Gegandengan Tangan

It’s you (Dionne W & Stevie W) : Jebul Sliramu

Big big world (Emilia) : Donyane Gedhe Banget

Careless whisper (George Michael) : Seneng Rasan2

I don’t have the heart (James Ingram) : Rempela Thok

Just once (James Ingram) : Sepisan Wae

Beautiful girl (Jose Mari Chan) : Cah Ayu

To all the girls I loved before (Julio Iglesias) : Kanggo Randha-Randhaku

Pretty boy (M2M) : Banci

Smile again (Manhatan Transfer) : Ayo Ngguyu (Waljinah)

I’ll be here waiting for you (Richard Marx) : Tak Cegat Neng Kene

2 Become 1 (Spice Girls) : Ilang Siji

Just the way you are (Billy Joel) : Sak karepmu

Smoke gets in your eyes (jazz) : Keculek Rokok

Long train running (Doobie W) : Kepancal Sepur

All blues (George Benson) : Kelunturan (Biru Kabeh)

O Danny boy (tradisional Irlandia) : O, Jebul Anake Dani!

Another clown (Leon) : Koyo Badut

PPION

Comments 1 Comment »

Oleh: Iwan Hilwan *
Tempo, 30 Juni 2008

KETIKA demam sepak bola melanda, kita diserbu berbagai ulasan dan komentar seputar olahraga paling populer ini lengkap dengan istilah yang menyertainya, baik di media massa maupun dalam obrolan di warung kopi.

Ada beberapa istilah sepak bola yang agak janggal dari segi tata bahasa ataupun logika. Misalnya kata sepak bola itu sendiri, mengapa bukan bola sepak, agar konsisten dengan nama jenis olahraga lain seperti bola voli atau bola basket. Kemudian bila merujuk ke istilah awalnya dalam bahasa Inggris yakni football, mengapa tidak dialihbahasakan menjadi bola kaki? Bukankah ada jenis olahraga lain yang bernama bola tangan? Ironisnya, hampir pada setiap narasi tentang pertandingan sepak bola, baik di media massa cetak maupun elektronik, kata sepak itu sendiri seolah dilupakan orang. Kata sepak dianaktirikan dan diganti dengan kata tendang, misalnya tendangan penjuru, tendangan bebas (bukan sepakan penjuru, sepakan bebas), atau tendangan kaki kiri dan kaki kanan David Beckham sama baiknya.

Istilah lainnya yang amat menggelitik logika namun sudah salah kaprah adalah si kulit bundar sebagai padanan bola sepak. Mengapa menggunakan kata bundar? Padahal kita semua tahu, bundar itu sifat fisik yang melekat pada benda pipih atau berdimensi dua, semacam kertas atau daun. Untuk benda tiga dimensi umumnya digunakan kata bulat, seperti bumi itu bulat, buah semangka juga bulat. Jadi seharusnya kita menyebut si kulit bulat untuk bola sepak, bukan si kulit bundar. Memang terasa agak janggal karena belum terbiasa, namun justru kata itu lebih logis.

Yang menggembirakan, beberapa terminolgi dalam dunia sepak bola tampaknya telah dialihbahasakan ke bahasa Indonesia, walaupun beberapa istilah masih sulit dicarikan padanannya. Istilah tendangan penjuru digunakan sebagai padanan corner kick, tendangan bebas untuk free kick, penjaga gawang untuk goalkeeper, dan wasit (berasal dari bahasa Arab waasith yang bermakna orang yang berdiri di tengah-tengah alias netral) untuk referee. Sementara ada beberapa istilah lain yang langsung saja diberi awalan me meskipun sebenarnya kata tersebut memiliki padanannya dalam bahasa Indonesia. Contohnya tackling atau tackle menjadi mentackle(padanannya menggasak), dan dribble menjadi mendribble(padanannya menggiring bola). Adapun istilah seperti kickoff, offside, atau diving sejauh ini belum pernah kita dengar padanannya dalam bahasa Indonesia. Bilapun padanannya dapat dirumuskan oleh ahli bahasa, belum tentu mengena sasaran makna sebenarnya, apalagi masyarakat luas, termasuk wartawan dan komentator di televisi, telanjur menyukai dan menikmati rasa bahasa istilah asing tersebut.

Ada satu istilah sepak bola yang sudah populer digunakan dalam bahasa Indonesia yang bermakna klub atau tim sepak bola (soccer team, football club), yaitu kesebelasan, dikarenakan pemainnya berjumlah sebelas orang. Anehnya, pola penamaan seperti ini tidak dapat diberlakukan untuk olahraga beregu lainnya, sehingga tampak tidak konsisten, misalnya regu bola basket tidak disebut kelimaan atau regu bola voli tidak disebut keenaman. Asal-usul kemunculan istilah kesebelasan itu serta tidak konsisten yang menyertainya, akan menarik untuk ditelusuri dan dikaji oleh para ahli bahasa.

Yang tak kalah menggelikan adalah pemakaian kata merumput yang dilekatkan kepada seorang pemain sepak bola profesional yang bergabung pada suatu klub. Misalnya ada media yang menulis Cristiano Ronaldo tetap akan merumput di klub Manchester United. Padahal kita semua mafhum, kata merumput sudah lama digunakan untuk menggambarkan aktivitas makan rumput pada komunitas hewan ruminansia seperti kambing, kerbau, atau sapi, sehingga kata ini bisa digunakan untuk kalimat: Kambing si Badu sedang merumput di tegalan.

Apakah pemakaian kata merumput untuk pemain sepak bola tersebut sudah pas dan mencerminkan suatu kreativitas berbahasa, atau justru refleksi kemalasan kita dalam menemukan istilah lebih tepat untuk menerangkan hal-hal yang baru? Kalau memang hal itu sebagai pertanda kemalasan kita, mungkin karena kita sering terserang demam, demam sepak bola yang memabukkan itu!

*)Staf pengajar Fakultas Kehutanan IPB

Comments No Comments »

Linguistics

http://web.uvic.ca/ling/resources/ipa/charts/IPAlab/IPAlab.htm IPA

http://www.phonetics.ucla.edu/course/chapter1/chapter1.html IPA Chart

http://coelang.tufs.ac.jp/modules/  Tokyo Gaidai Gengo Module

http://www.bedreigdetalen.nl/ Endangered Languages

http://wals.info/index The World Atlas of Language Structures Online

http://deutsch.c.u-tokyo.ac.jp/%7EGottschewski/LinguaLatina/ Lingua Latina

http://www.iknow.co.jp/ 英語学習コミュニティー

http://www.ak.cradle.titech.ac.jp/Rise/titlefs.htm 日本語勉強

Bahasa Indonesia

http://indonesischblog.wordpress.com/ Indonesisch-Blog

http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/ Tim Bahasa Indonesia Northern Illinois University

http://maigo.sfc.keio.ac.jp/index.html Program Bahasa Indonesia Keio

http://direktif.web.id/arc/2004/02/senarai-padanan-istilah#s Padanan Istilah Komputer

http://bse.depdiknas.go.id/ Buku Sekolah Elektronik Depdiknas

http://netsains.com/ 

Indonesia

http://www.my-indonesia.info/ Indonesia Tourism: Official Site - Ministry of Culture and Tourism Republic of Indonesia

http://www.aniza-ichiba.com/ Pasar Online Indonesia di Jepang

http://www.belanjabatik.com/ Toko Batik Online

http://www.nhk.or.jp/nhkworld/indonesian/top/index.html NHK Indonesian

Tokyo Daigaku

https://opac.dl.itc.u-tokyo.ac.jp/opac/basic-query?mode=2 OPAC

https://ut-gakumu.adm.u-tokyo.ac.jp/websys/campus UT-mate

http://park.itc.u-tokyo.ac.jp/kyomu/info/zenki/zenki-top/framepage7.htm UTask-Web

http://ppitodai.multiply.com/ PPI Todai

Miscellaneous

http://ec.europa.eu/education/external-relation-programmes/doc72_en.htm Erasmus Mundus

http://cp.c- ij.com/japan/ papercraft/ Paper Craft

http://list.mp3.baidu.com/list/topmp3.html?id=1 Baidu MP3

http://park2.itc.u-tokyo.ac.jp/tuics/restaurants.htm Halal Food Restaurants

http://www.tvgratis.tv/ TV Gratis

http://www.urbanrail.net/index.html UrbanRail

http://www.storyofstuff.com/ The Story of Stuff with Annie Leonard

http://subejo.staff.ugm.ac.id/?page_id=8 UGM

http://www.advancetravel.co.jp/

Comments No Comments »

Oleh: Kwik Kian Gie

Kali ini saya tidak akan membahas tentang pengertian subsidi -apakah itu sama dengan uang tunai yang harus keluar atau tidak- dan hal-hal teknis lain seperti itu. Saya akan membahas tentang negara kaya yang menjadi miskin kembali karena terjerumus ke dalam mental kuli yang oleh penjajah Belanda disebut mental inlander. Mental para pengelola ekonomi sejak 1966 yang tidak mengandung keberanian sedikit pun, yang menghamba, yang ngapurancang ketika berhadapan dengan orang-orang bule.

Ibu pertiwi yang perut buminya mempunyai kandungan minyak sangat besar dibanding kebutuhan nasionalnya, setelah 60 tahun merdeka hanya mampu menggarap minyaknya sendiri sekitar 8 persen. Sisanya diserahkan kepada eksplorasi dan eksploitasi perusahaan-perusahaan asing.

Apa pekerjaan dan sampai seberapa jauh daya pikir para pengelola ekonomi kita sejak merdeka sampai sekarang? Istana Bung Karno dibanjiri para kontraktor minyak asing yang sangat berkeinginan mengeksplorasi dan mengeksploitasi minyak bumi di Indonesia. Bung Karno menugaskan Chairul Saleh supaya mengizinkannya hanya sangat terbatas. Putrinya, Megawati, bertanya kepada ayahnya, mengapa begitu? Jawaban Bung Karno kepada putrinya yang baru berumur 16 tahun, "Nanti kita kerjakan sendiri semuanya kalau kita sudah cukup mempunyai insinyur-insinyur sendiri."

Artinya, Bung Karno sangat berketetapan hati mengeksplorasi dan mengeksploitasi minyak oleh putra-putri bangsa Indonesia sendiri. Mengapa sekarang hanya sekitar 8 persen? Lebih menyedihkan ialah keputusan pemerintah memperpanjang kerja sama dengan Exxon Mobil (Exxon) untuk blok Cepu selama 20 tahun sampai 2030.

Begini ceritanya. Exxon membeli lisensi dari Tommy Soeharto untuk mengambil minyak dari sebuah sumur di Cepu yang kecil. Exxon lalu melakukan eksplorasi tanpa izin. Ternyata ditemukan cadangan dalam sumur yang sama sebanyak 600 juta barel. Ketika itu Exxon mengajukan usul untuk memperpanjang kontraknya sampai 2030. Keputusan ada di tangan Dewan Komisaris Pemerintah untuk Pertamina (DKPP). Dua dari lima anggota menolak. Yang satu menolak atas pertimbangan yuridis teknis. Yang lain atas pertimbangan sangat prinsipil.

Dia sama sekali tidak mau diajak berargumentasi dan juga sama sekali tidak mau melihat angka-angka yang disodorkan Exxon beserta para kroninya yang berbangsa Indonesia. Mengapa? Karena yang menjadi pertimbangan pokoknya, harus dieksploitasi bangsa Indonesia sendiri, yang berarti bahwa Exxon pada 2010 harus hengkang, titik. Alasannya sangat mendasar, tetapi formulasinya sederhana. Yaitu, bangsa yang 60 tahun merdeka selayaknya, semestinya, dan seyogianya mengerjakan sendiri eksplorasi dan eksploitasi minyaknya. Bahkan, harus melakukannya di mana saja di dunia yang dianggap mempunyai kemungkinan berhasil. Menurut peraturan yang berlaku (sebelum Pertamina berubah menjadi Persero), kalau DKPP tidak bisa mengambil keputusan yang bulat, keputusan beralih ke tangan presiden. Maka, bola ada di tangan Presiden Megawati Soekarnoputri. Beliau tidak mengambil keputusan, sehingga Exxon kalang kabut. Exxon mengirimkan executive vice president-nya yang langsung mendatangi satu anggota DKPP yang mengatakan "pokoknya tidak".

Dia mengatakan, sejak awal sudah ingin bertemu satu orang anggota DKPP ini yang berinisial KKG, tetapi dilarang kolega-koleganya sendiri. KKG tersenyum sambil mengatakan karena para koleganya masih terjangkit mental inlander.

Lalu dia berargumentasi panjang lebar dengan mengemukakan semua angka betapa Indonesia diuntungkan. KKG menjawab bahwa kalau dia ngotot sampai seperti itu, apa lagi latar belakangnya kalau dia tidak memperoleh untung besar dari perpanjangan kontrak sampai 2030? Karena itu, kalau mulai 2010, sesuai kontrak, Exxon harus hengkang dan seluruhnya dikerjakan Pertamina, semua laba yang tadinya jatuh ke tangan Exxon akan jatuh ke tangan Indonesia sendiri. Lagi pula, KKG menjelaskan bahwa sudah waktunya belajar menjadi perusahaan minyak dunia seperti Exxon. KKG bertanya kepadanya, "Bukankah kami berhak mulai merintis supaya menjadi Anda di bumi kita sendiri dan menggunakan minyak yang ada di dalam perut bumi kita sendiri?"

Eh, dia mulai mengatakan tidak bisa mengerti bagaimana orang berpendidikan Barat bisa sampai seperti itu tidak rasionalnya! Jelas KKG muntap dan mulai memberi kuliah panjang lebar bahwa orang Barat sangat memahami dan menghayati tentang apa yang dikatakan EQ, dan bukan hanya IQ. Apalagi, kalau dalam hal blok Cepu ini ditinjau dengan IQ juga mengatakan bahwa mulai 2010 harus dieksploitasi oleh Indonesia sendiri. Bung Karno juga berpendidikan Barat dan sejak awal beliau mengatakan, "Man does not live by bread alone." Dalam hal blok Cepu, dua argumen berlaku, yaitu man does not live by bread alone, dan diukur dengan bread juga menguntungkan Indonesia, karena laba yang akan jatuh ke tangan Exxon menjadi labanya Pertamina.

Pikiran lebih mendalam dan bahkan dengan perspektif jangka panjang yang didasarkan materi juga mengatakan bahwa sebaiknya blok Cepu dieksploitasi oleh Pertamina sendiri. Mengapa? Jawabannya diberikan oleh mantan Direktur Utama Pertamina Baihaki Hakim kepada Menko Ekuin ketika itu bahwa Pertamina adalah organisasi yang telanjur sangat besar. Minyak adalah komoditas yang tidak dapat diperbarui. Penduduk indonesia bertambah terus seiring dengan bertambahnya konsumsi.

Kalau sekarang saja terlihat bahwa konsumsi nasional sudah lebih besar daripada produksi nasional, di masa mendatang kesenjangan ini menjadi semakin besar, dan akhirnya organisasi Pertamina yang demikian besar itu akan dijadikan apa?

Apakah hanya menjadi perusahaan dagang minyak, dan apakah akan mampu berdagang saja dalam skala dunia, bersaing dengan the seven sisters? Maka visi jangka panjang Baihaki Hakim, mumpung masih lumayan cadangannya, sejak sekarang mulai go international dan menggunakan cadangan minyak yang ada untuk sepenuhnya menunjang kebijakannya yang visiuner itu. Menko Ekuin ketika itu memberikan dukungan sambil mengatakan, "Pak Baihaki, saya mendukung sepenuhnya. Syarat mutlaknya ialah kalau Anda ingin menjadikan Pertamina menjadi world class company, Anda harus juga memberikan world class salary kepada anak buah Anda." Sang Menko Ekuin keluar dari kabinet Abdurrahman Wahid. Setelah itu dia kembali ke kabinet sebagai kepala Bappenas dan ex officio menjabat anggota DKPP. Maka pikirannya masih dilekati visi jangka panjangnya Pak Baihaki Hakim dan kebetulan direktur utama Pertamina ketika itu juga masih Pak Baihaki Hakim. Tetapi, kedudukan kita berdua sudah sangat lemah, karena dikeroyok para anggota DKPP dan anggota direksi lain yang mental, moral, dan cara berpikirnya sudah kembali menjadi inlander.

Baihaki Hakim yang mempunyai visi, kemampuan, dan telah berpengalaman 13 tahun menjabat direktur utama Caltex Indonesia langsung dipecat begitu Pertamina menjadi persero. Alasannya, kalau diibaratkan sopir, dia adalah sopir yang baik untuk mobil Mercedes Benz. Sedangkan yang diperlukan buat Pertamina adalah sopir yang cocok untuk truk yang bobrok. Bayangkan, betapa inlander cara berpikirnya. Pertamina diibaratkan truk bobrok. Caltex adalah Mercedez Benz. Memang sudah edan semua. Ada tekanan luar biasa besar dari pemerintah Amerika Serikat di samping dari Exxon. Ceritanya begini. DubesAS ketika itu, Ralph Boyce, sudah membuat janji melakukan kunjungan kehormatan kepada kepala Bappenas, karena protokolnya begitu. Tetapi, ketika sang Dubes tersebut mendengarkan pidato sang kepala Bappenas di Pre-CGI meeting yang sikap,isinya pidato, dan nadanya bukan seorang inlander, janjinya dibatalkan.Eh, mendadak dia minta bertemu kepala Bappenas. Dia membuka pembicaraan dengan mengatakan akan berbicara tentang Exxon. Kepala Bappenas dalam kapasitasnya selaku anggota DKPP mengatakan bahwa segala sesuatunya telah dikemukakan kepada executive vice president-ya Exxon, dan dipersilakan berbicara saja dengan beliau.Sang Dubes mengatakan sudah mendengar semuanya, tetapi dia hanya melakukan tugasnya. "I am just doing my job". Kepala Bappenas mengatakan lagi, "Teruskan saja kepada pemerintah Anda di Washington semua argument penolakan saya yang diukur dengan ukuran apa pun, termasuk semua akal sehat orang-orang Amerika pasti dapat diterima."

Kepala Bappenas keluar lagi dari kabinet karena adanya pemerintahan baru, yaitu Kabinet Indonesia Bersatu, dan Exxon menang mutlak. Ladang minyak di blok Cepu yang konon cadangannya bukan 600 juta barrel, tetapi 2 miliar barrel, oleh para inlander diserahkan kepada Exxon penggarapannya. Saya terus berdoa kepada Bung Karno dan mengatakan, "Bung Karno yang saya cintai dan sangat saya hormati. Janganlah gundah dan gelisah, walaupun Bapak sangat gusar. Istirahatlah dengan tenang. Saya juga sudah bermeditasi disalah satu vihara untuk menenangkan hati dan batin saya. Satu hari nanti rakyat akan bangkit dan melakukan revolusi lagi seperti yang pernah Bapak pimpin, kalau para cecunguk ini sudah dianggap terlampau lama dan terlampau mengkhianati rakyatnya sendiri."

*) Mantan Menteri Negara PPN/kepala Bappenas
PPION

Comments 2 Comments »